Notification

×

Iklan

Iklan

Humor Sebagai Benteng Terakhir

| Januari 25, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-01-25T10:45:15Z


Oleh: Yusdi Lastutiyanto*


tegursapanews.com - Humor: Ada yang berkata, "Orang yang paling banyak tertawa sering kali menyimpan luka paling dalam." Kalimat ini, sederhana namun menusuk, mengisyaratkan sebuah realitas yang jarang terungkap. Orang-orang yang selalu terlihat ceria, melontarkan lelucon, sering kali adalah mereka yang menyembunyikan pertempuran batin yang sulit mereka bagi. Ini bukan sekadar fenomena sosial, tetapi juga sesuatu yang bisa dijelaskan secara psikoanalitis oleh Sigmund Freud dalam gagasannya tentang humor sebagai pertahanan ego terakhir.


Dalam esainya yang berjudul “Humour” (1927), Freud menggambarkan humor sebagai mekanisme pertahanan diri yang memungkinkan individu menghadapi kesedihan atau tekanan tanpa kehilangan kendali. Humor, kata Freud, adalah seni mentransformasikan rasa sakit menjadi tawa, sebuah perlawanan elegan terhadap kenyataan yang kejam. Dalam humor, individu menciptakan jarak emosional antara dirinya dan penderitaan. Ia mengolah rasa sakit menjadi sesuatu yang dapat diterima, bahkan ditertawakan.


Orang-orang yang terus melucu meski batinnya remuk adalah wujud nyata dari teori ini. Mereka tidak menolak keberadaan luka, tetapi mengolahnya menjadi lelucon yang bisa menghibur, bukan hanya orang lain, tetapi juga dirinya sendiri. Tawa mereka adalah perisai yang menutupi kegundahan hati. Dalam setiap punchline yang dilemparkan, ada rasa perih yang diredakan, meski hanya sesaat.


Namun, humor semacam ini bukan tanpa risiko. Freud mengingatkan bahwa meski humor dapat meredakan tekanan, ia tidak selalu menyelesaikan masalah mendasar. Humor adalah jeda, ruang kecil untuk bernapas, tetapi bukan penyembuh luka yang sejati. Orang yang banyak tertawa, sering kali, sedang menunda menghadapi rasa sakitnya. Mereka membangun dinding-dinding kokoh dengan tawa, tetapi pada akhirnya, dinding itu tak selamanya mampu menahan.


Jika kita memahami ini, maka kita akan lebih peka pada mereka yang tampak selalu bahagia. Di balik senyum mereka, ada badai yang bergejolak. Mereka bukan sekadar komedian yang ingin menghibur dunia, mereka adalah pejuang yang mencoba bertahan hidup. Humor adalah cara mereka berkata pada diri sendiri, “Aku masih kuat, aku masih di sini.”


Tetapi, saat tawa menjadi satu-satunya pelarian, mereka juga butuh tempat untuk jujur. Butuh ruang di mana mereka tidak perlu terus-menerus terlihat kuat. Mungkin, mereka tidak butuh nasihat atau solusi, hanya kehadiran orang lain yang mau mendengar, tanpa menilai, tanpa menghakimi.


Freud benar ketika ia mengatakan bahwa humor adalah bentuk pertahanan diri yang paling matang. Ia bukan penyangkalan, melainkan penerimaan yang berani. Tapi, ada saatnya tawa perlu dihentikan, bukan karena kehilangan makna, tetapi karena saat itulah waktunya untuk sembuh.


Jadi, saat kau melihat seseorang yang terus tertawa, jangan buru-buru menyimpulkan mereka bahagia. Di balik tawa mereka, ada pelajaran kehidupan yang luar biasa, bagaimana manusia mampu bertahan, bahkan di tengah luka. Karena pada akhirnya, tertawa di atas luka adalah seni bertahan hidup, dan memahami tawa itu adalah seni untuk peduli.


*Trainer NLP di IHC & LOA Jakarta


Editor: Abdul Chalim

×
Berita Terbaru Update